Hukum Lamaran


Hukum Lamaran atau Pinangan Dalam Islam

Banyak yang salah kaprah bahwa lamaran itu adalah hal yang wajib dalam proses menikah, padahal hukum lamaran / pinangan dalam islam adalah sunnah.

Menurut Jumhur Ulama, Lamaran bukan merupakan syarat sah pernikahan. Lamaran biasanya hanya merupakan sarana untuk menuju jenjang pernikahan.

Menurut Jumhur Ulama, hukum lamaran adalah boleh. Mereka berargumentasi dengan firman Allah, “dan tidak ada dosa bagimu untuk melamar wanita-wanita itu dengan sindiran.” (QS. Al-Baqarah : 235).

Menurut Mazhab Syafi’i, hukum lamaran adalah sunnah. Hal ini didasarkan atas perbuatan Nabi SAW yang melamar Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar.

Karena telah banyak yang menganggap pentingnya bahwa lamaran adalah sesuatu yang penting, banyak calon pasangan yang sudah bebas melakukan hubungan layaknya suami istri seusai lamaran. Padahal meskipun kita sudah lamaran, status calon pasangan tersebut adalah masih seperti orang asing, dan bukan seperti calon pasangan.

Hukum Membatalkan Lamaran atau Pinangan

Hanya terjadi lamaran atau pinangan antara laki-laki dan perempuan tidaklah bermakna terjadinya akad nikah, maka laki-laki atau perempuan tersebut (masing-masing) berhak untuk meninggalkan (membatalkan) lamaran bila ia melihat ada maslahat dalam pembatalan itu. Baik itu direlakan oleh pihak lain atau tidak direlakan.

Kesepakatan antara peminang dengan yang dipinang untuk menerima khitbah/ pinangan/ lamaran, baik yang menerima pinangan tersebut pihak wanita secara langsung ataupun walinya termasuk Akad Jaiz sebagaimana Akad Wakalah (perwakilan), Wadi’ah (titipan), Syirkah (perseroan) dan semisalnya bukan Akad Lazim seperti akad jual beli, Akad Ijaroh (perkontrakan), Akad Salam (pembelian uang dimuka) dan semisalnya. Akad Jaiz boleh di fasakh (dibatalkan) secara sepihak (dengan tidak ada konsekuensi dosa apapun) tanpa persetujuan pihak yang lain, sementara Akad Lazim tidak bisa di fasakh tanpa persetujuan kedua belah pihak yang berakad.

Dari Al A’raj ia berkata; Abu Hurairah berkata; Satu warisan dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara. Janganlah seorang laki-laki meminang atas pinangan saudaranya hingga ia menikahinya atau meninggalkannya.” (HR. Bukhari)

Lafadz “Hingga ia menikahinya atau meninggalkannya” menunjukkan orang yang telah mengkhitbah (meminang) wanita punya dua pilihan sesudah pinangan tersebut diterima; melanjutkan dengan akad nikah atau meninggalkan pinangannya. Jika dia memilih meninggalkan pinangannya maka hal itu bermakna dia membatalkan pinangan. Pembatalan pinangan dalam hadits ini tidak disertai lafadz dari Rasulullah SAW yang mengesankan ancaman dosa atau sekedar celaan. Oleh karena itu membatalkan lamaran hukumnya mubah, bukan makruh apalagi haram.

Sumber:http://www.masuk-islam.com/hukum-lamaranpinangan-dalam-islam-dan-hukum-membatalkan-lamaranpinangan.html/comment-page-2#comment-19392

Pabrik Tas di Indonesia

Konveksi Tas Idola Sebagai

Pengrajin Tas

Alamat Produsen Tas pembuat Tas

Seminar

Jl. Leuwipanjang – Leuwi Sari V no 59

Bandung

No Hp 081-221-248-03

Telepon 022 – 520 6738

www.tasidola.com / www.pabriktas.co.id

Email : info_dh@yahoo.com / info_tasidola@yahoo.com