Perbedaan Haji dan Umrah


Haji dan Umrah merupakan impian semua umat Islam, karena untuk melaksanakannya membutuhkan persiapan yang lebih, khususnya persiapan dari segi biaya dan fisik untuk bisa pergi ke Mekkah Al-Mukaramah. Haji dan Umrah merupakan Ibadah yang bersifat maliah mahdhoh atau yang erat membutuhkan harta benda. Berbeda dengan Umrah yang bisa dilakukan setiap saat diluar musim Haji, Ibadah Haji sudah ditentukan waktunya setahun sekali pada bulan Dzulhijah.

Dalam mempelajari istilah Haji dan Umrah, ada perbedaan pendapat antar ulama dari beberapa madzhab, entah itu mengenai pengertian Haji atau Umrah, hukum maupun tatacara dari pelaksanaannya. Namun, dari beberapa perbedaan pendapat tersebut, rata-rata yang dipakai di indonesia adalah yang memiliki kesepakatan yang paling banyak (ijma’).

Haji menurut bahasa bermakna al-qoshdu yang artinya sengaja atau bermaksud. Sedangkan secara Istilah, Haji merupakan serangkaian ibadah yang dilakukan pada waktu tertentu dan dengan tata cara tertentu untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Haji merupakan Rukun Islam yang ke-6 dimana itu merupakan kewajiban dan menjadi salah satu indikator bagi kesempurnaan keIslaman.

Hukum Haji yaitu Wajib bagi setiap muslim yang mampu, seperti firman Allah dalam QS Al-Imran ayat 97;

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Dan Allah mewajibkan atas manusia haji ke baitullah bagi orang yang mampu mengerjakannya”

Yang dimaksud mampu disini adalah setiap muslim yang mempunyai kemampuan baik dalam hal biaya, fisik maupun waktu.

Haji merupakan ibadah yang sudah ditentukan waktunya, yaitu tanggal 9 sampai 13 Dzulhijjah yang artinya musim Haji hanya terjadi sekali dalam 1 tahun yaitu sekitar 5 hari pada bulan Dzulhijjah. Namun karena yang menjadi prinsip dan inti dari ibadah haji adalah wuquf di padang Arofah maka boleh kita berpendapat bahwa hari haji itu tepatnya jatuh pada tanggal 9 dzulhijjah itu sendiri.

Umrah adalah ibadah sunah yang apabila dilakukan akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah SWT. Umrah juga disiratkan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu ibadah maliah atau ibadah yang menuntut adanya pengorbanan harta benda.

Meskipun dalam terminologi fiqih Haji dan Umrah merupakan ibadah mustaqillah yang artinya masing-masing memiliki hukum sendiri dan berbeda antara satu dengan lainnya, Haji dan Umrah sangat mungkin dan bisa dilaksanakan secara bersamaan.

Hukum Umrah ini memiliki beberapa pendapat yang berbeda dari para ulama. Dalam kitab Al Fiqhu ‘Alal Madzahibil Arba’ah karya Syaikh ‘Abdul Rahman bin Muhammad ‘Awad al-Jaziri di sana dimuat tentang perbedaan hukum terkait dengan umroh. Ulama’ yang menyepakati umroh adalah ibadah sunah muakkadah (sunah yang dianjurkan) adalah Imam Maliki dan Imam Hanafi. Pendapat yang mewajibkan adalah Imam Syafi’i dan Imam Hambali.

Umrah bisa dilakukan kapan saja dan hanya sunnah dilakukan sekali seumur hidup.Terlepas dari kenyataanya pada pendapat para ulama, masyarakat Indonesia cenderung melakukan umroh berkali-kali dengan alasan kerinduan terhadap rumah Allah SWT. Selama itu tidak menjadikan beban dan menimbulkan dampak negatif para ulama sepakat membolehkan umroh berkali-kali seperti yang sering dilakukan ketika bulan-bulan haji dan bulan Ramadan.

Kalau mengenai syarat, wajib, dan rukun haji serta umroh, hal ini berhubungan erat dengan tata-cara atau teknis haji atau umroh itu sendiri. Di kalangan keempat madzhab yang ada masing-masing memiliki pendapatnya masing-masing.

Syarat haji, kita bisa merujuk pada pedoman umum dalam pembahasannya mengenai fiqih kontemporer dalam buku Fiqh Islam karya H.Sulaiman rasyjidin halaman 346 ditulis bahwa ada empat syarat wajib haji yaitu:

  1. Islam
  2. Berakal dan Baligh (Mukallaf)
  3. Orang yang merdeka (tidak berstatus menjadi budak)
  4. Mampu atau kuasa (Memiliki kemampuan melaksanakan haji sendiri)

Secara rukun ibadah Haji membutuhkan kekuatan fisik yang lebih daripada Umrah karena wilayah yang akan dikunjungi bermacam-macam dengan jumlah jamaah yang jauh lebih banyak. Rangkaian ibadah haji harus mengunjungi Arafah, Muzdalifah dan Mina sementara rangkaian ibadah umroh hanya dilakukan di sekitaran masjid Al-Haram dan Ka’bah saja. Persamaannya, baik dalam ibadah haji maupun umroh juga harus bertawaf di Kakbah (mengelilingi) dan Sai (lari-lari kecil) di Safa dan Marwah. Oleh karena itu baik ibadah haji maupun umroh membutuhkan kesiapan fisik yang prima.

Ibadah haji dan umroh tidaklah wajib bagi yang belum mampu baik secara fisik dan keuangan, jadi jika memang belum siap jangan dipaksakan sehingga membuat ibadah menjadi beban.

Sumber:https://www.cermati.com/artikel/ini-dia-perbedaan-antara-haji-dan-umroh

Pabrik Tas di Indonesia

Konveksi Tas Idola Sebagai

Pengrajin Tas

Alamat Produsen Tas pembuat Tas

Seminar

Jl. Leuwipanjang – Leuwi Sari V no 59

Bandung

No Hp 081-221-248-03

Telepon 022 – 520 6738

www.tasidola.com / www.pabriktas.co.id

Email : info_dh@yahoo.com / info_tasidola@yahoo.com