Sami’na Wa Atho’na


Pada awal masa dakwah Rasulullah, setiap perintah dan larangan yang datang selalu direspon oleh umat di masa itu sebagai bentuk keimanan. Tidak peduli perintah itu menguntungkan atau merugikan, mudah ataupun sulit. Semangat keimanan melahirkan ruh-ruh ketaatan Sami’na Wa Atho’na (Kami dengar dan kami taat). Termasuk ketika muncul kasus mengharamkan babi secara konstektual dalam Al-Qur’an. Buah keimanan adalah munculnya khudznudzan kepada Allah SWT, yakni bahwa di dalam larangan itu pasti ada kebaikan.

Sebagai seorang hamba, kita harus mendahulukan Sami’na Wa Atho’na. Keimanan itu butuh proses. Tapi setelah beriman, setiap resiko keimanan itu tidak lagi di timbang-timbang, tidak lagi kita ikuti dengan prasangka-prasangka. Saya dengar dan saya ta’at, dan bukan menantikan efek-efeknya. Baik mudharat (efek negatif) maupun maslahatnya (efek positif), yang pasti Allah SWT menjanjikan surga bagi hamba-hambanya yang menta’atinya.

Allah SWT mencantumkannya dalam surat An-Nisa ayat 13 :

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalahh ketentuan-ketentuan dari Allah SWT. Barangsiap taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai sungai, sedang mereka kekal didalamnya, dan itulah kemenangan yang besar.”

Iblislah, Penghulu Gerakan Anti Sami’na Wa Atho’na

Malaikat langsung bersujud kepada Nabi Adam ketika diperintah oleh Allah SWT, Malaikat mendengar dan menta’ati. Sedangkan Iblis membantah perintah itu, dan Iblis malah memberikan argumen argumen seakan dia lebih tau daripada Allah SWT. Iblis merasa ia diciptakan dari yang paling mulia. Iblis di usir dari surga dan dari sisi Allah SWT dengan penuh penderitaan.

Kenapa Sami’na Wa Atho’na?n

Kondisi penduduk mekkah dan madinahh masih buta huruf, sehingga perantaraan dakwah melalui media tulisan sangat tidak efektif. Maka dari itu, setiap perintah atau larangan disampaikan langsung dari mulut ke telinga. Sami’na Wa Atho’na, setiap perintah itu harus didengar dan di ta’ati. Sami’na Wa Atho’na hanya dilakukan pada tahapan konstektual sebuah perintah.

Sumber:http://jundi313.blogspot.co.id/2009/05/samina-wa-athona-kami-dengar-dan-kami_08.html

Pabrik Tas di Indonesia

Konveksi Tas Idola Sebagai

Pengrajin Tas

Alamat Produsen Tas pembuat Tas

Seminar

Jl. Leuwipanjang – Leuwi Sari V no 59

Bandung

No Hp 081-221-248-03

Telepon 022 – 520 6738

www.tasidola.com / www.pabriktas.co.id

Email : info_dh@yahoo.com / info_tasidola@yahoo.com